KEMISKINAN sering kali disederhanakan sebagai akibat dari kemalasan, kurangnya pendidikan, atau kegagalan pribadi. Namun narasi ini menutup mata dari kenyataan yang lebih kompleks dan sistemik: bahwa miskin bukan pilihan, tetapi akibat dari struktur sosial dan ekonomi yang tidak adil.
Di Indonesia, di mana ketimpangan antara si kaya dan si miskin terus melebar, wacana mengenai kemiskinan harus digeser dari individualisasi menuju pembacaan yang lebih sistemik.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun angka pertumbuhan ekonomi membaik, jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan masih stagnan, bahkan meningkat di beberapa wilayah.
Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti pemerataan kesejahteraan. Sistem ekonomi yang condong kepada akumulasi kekayaan oleh segelintir elit menjadikan upaya keluar dari kemiskinan sebagai perjuangan tanpa ujung bagi masyarakat bawah.










