Subsidi yang tidak tepat sasaran, birokrasi yang berbelit, hingga akses pendidikan dan kesehatan yang timpang memperkuat jeratan kemiskinan.
Banyak keluarga miskin terpaksa memilih antara menyekolahkan anak atau membeli kebutuhan pokok harian. Pilihan ini bukan karena mereka tidak peduli pendidikan, melainkan karena sistem tidak memberi ruang bagi mereka untuk bermimpi.
Upah minimum yang tak sebanding dengan kebutuhan hidup layak, harga bahan pokok yang terus melonjak, serta kurangnya jaminan sosial yang menyeluruh, memperlihatkan bahwa negara belum hadir secara penuh dalam melindungi rakyatnya dari siklus kemiskinan.
Ketika seorang buruh harus bekerja lebih dari 10 jam sehari untuk sekadar menyambung hidup, maka yang salah bukan individunya, tapi sistem yang membiarkan hal ini terus berlangsung.










