KEHIDUPAN DESANATUNA

Desa Kelanga Natuna Bangun Pabrik Sagu Perkuat Program Ketahanan Pangan

×

Desa Kelanga Natuna Bangun Pabrik Sagu Perkuat Program Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Abdul Sami Arip.

“Pemerintah Desa Kelanga memprioritaskan pembangunan pabrik sagu sebagai program utama ketahanan pangan desa.”

NATUNA — Sekretaris Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Abdul Sami Arip, mengatakan Pemerintah Desa Kelanga telah menetapkan pembangunan pabrik sagu sebagai program prioritas dalam sektor ketahanan pangan desa pada tahun anggaran 2025.

Menurut Abdul Sami, program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah desa difokuskan pada pengolahan komoditas sagu melalui pembangunan fasilitas produksi yang lebih modern dan efisien. Pabrik sagu tersebut dilengkapi dengan sejumlah mesin pengolahan, mulai dari mesin penggiling hingga mesin pengaduk, sehingga proses produksi tidak lagi dilakukan secara manual.

Lanjutnya menerangkan, bahwa pengadaan mesin-mesin tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mempermudah proses pengolahan sagu yang selama ini masih dilakukan secara tradisional oleh masyarakat.

“Untuk program ketahanan pangan tahun 2025, tematik kami adalah pengolahan sagu. Kami sudah menyediakan pabrik sagu lengkap dengan mesin penggiling dan mesin pengaduk sehingga proses produksi tidak lagi menggunakan alat manual,” terangnya kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin, 16 Maret 2026.

Dalam operasionalnya, pabrik sagu tersebut tidak membutuhkan banyak tenaga kerja karena sebagian besar proses produksi telah menggunakan mesin. Abdul Sami menyebutkan bahwa aktivitas pengolahan sagu hanya memerlukan sekitar tiga orang pekerja dalam satu hari kerja untuk mengoperasikan mesin serta mengelola proses produksi.

Lokasi pabrik sagu tersebut berada di Dusun Sebadai Hilir, RT 02 RW 01, dengan memanfaatkan lahan milik warga setempat yang disewa oleh pemerintah desa melalui perjanjian resmi.

“Lahan yang digunakan merupakan milik masyarakat atas nama Amiruddin dan telah dilakukan perjanjian sewa dengan pemerintah desa,” kata Abdul Sami.

Abdul Sami mengungkapkan bahwa pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga telah menyiapkan strategi pengembangan bahan baku apabila ketersediaan batang sagu di Desa Kelanga mulai berkurang. Dalam kondisi tersebut, BUMDes akan melakukan survei dan pembelian bahan baku sagu dari desa lain di wilayah sekitar. Beberapa wilayah yang direncanakan menjadi sumber pasokan bahan baku antara lain Desa Ceruk dan Desa Sungai Hulu yang dinilai masih memiliki potensi pohon sagu cukup besar.

Baca Juga:  Nelayan Kerapu Natuna Masih Menunggu Kepastian

“Apabila stok batang sagu di Desa Kelanga habis, BUMDes akan melakukan survei ke desa lain yang memiliki sumber sagu, seperti Desa Ceruk atau Sungai Hulu,” ungkapnya.

Untuk mendukung program ketahanan pangan tersebut, pemerintah desa mengalokasikan anggaran sebesar Rp163 juta, yang berasal dari alokasi wajib sebesar 20 persen dari total dana desa untuk program ketahanan pangan.

Abdul Sami menjelaskan bahwa program pengolahan sagu tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).

Saat ini, masyarakat Desa Kelanga telah mulai merasakan manfaat dari pengolahan sagu tersebut. BUMDes bahkan telah menyiapkan rencana produksi tepung sagu yang akan dipasarkan sebagai produk olahan desa.

Lanjut Abdul Sami, produk tepung sagu yang dihasilkan nantinya telah dipersiapkan untuk memenuhi standar legalitas usaha, termasuk memperoleh sertifikasi halal serta izin label produk.

“Produk tepung sagu dari BUMDes sudah memiliki izin label dan sertifikasi halal. Setelah Lebaran nanti rencananya BUMDes akan kembali memulai produksi secara intensif,” jelasnya.

Abdul Sami menuturkan apabila produksi berjalan optimal dan stok produk mencukupi, pemerintah desa berencana memasarkan tepung sagu tersebut tidak hanya di Desa Kelanga, tetapi juga ke wilayah lain di Kabupaten Natuna, seperti wilayah Terempa di Kabupaten Anambas dan daerah sekitarnya.

Untuk tahap awal, produk tepung sagu akan dipasarkan melalui jaringan kedai kecil yang berada di lingkungan desa sebelum diperluas ke pasar yang lebih luas. Selain itu, pengelolaan hasil produksi sagu juga menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi desa melalui BUMDes. Keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha tersebut nantinya akan dikelola sebagai sumber pendapatan desa.

Baca Juga:  Rescuer KPP Natuna Perkenalkan Salah Satu Jenis Alat Evakuasi di Bawah Air

“Keuntungan dari usaha BUMDes nantinya akan dibukukan dalam laporan keuangan, kemudian sebagian hasilnya disetorkan sebagai Pendapatan Asli Desa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Abdul Sami menekankan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan di tingkat desa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia serta partisipasi masyarakat dalam mengembangkan potensi pertanian dan perkebunan lokal. Pihaknya menilai Desa Kelanga memiliki potensi komoditas pertanian yang cukup beragam, seperti semangka, jagung, dan berbagai jenis sayuran yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan di masa mendatang.

Namun demikian, pemerintah desa masih menghadapi tantangan dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk lebih aktif mengembangkan sektor pertanian, termasuk dalam pembentukan kelompok tani.

Menurutnya, keberadaan kelompok tani menjadi syarat penting agar masyarakat dapat memperoleh akses terhadap berbagai program bantuan pemerintah, seperti subsidi pupuk dari dinas pertanian.

“Jika tidak ada kelompok tani, maka masyarakat tidak bisa mendapatkan subsidi pupuk. Karena itu kami terus mendorong para petani untuk membentuk kelompok tani,” harapnya.

Selain itu, pemerintah desa juga telah mengarahkan masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan pekarangan rumah guna menanam berbagai komoditas sayuran cepat panen, seperti sawi, timun, dan kacang panjang. Langkah tersebut juga sejalan dengan kebutuhan penyediaan bahan pangan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan bahan pangan segar secara berkelanjutan. (KP).


Laporan : Dhitto


📊 Views: 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *