KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Ketika Anggaran Jadi Alat Kekuasaan, 3T Tak Punya Suara

×

Ketika Anggaran Jadi Alat Kekuasaan, 3T Tak Punya Suara

Sebarkan artikel ini
Foto realistis menunjukkan desa perbatasan Indonesia dengan latar belakang kota besar yang modern, menggambarkan kesenjangan pembangunan akibat kebijakan anggaran yang tidak adil terhadap wilayah 3T.
Ilustrasi kontras antara desa perbatasan dan pusat kota mencerminkan ketimpangan distribusi anggaran negara yang tidak berpihak pada wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Menuju Desentralisasi Kewilayahan yang Berkeadilan

Jika negara serius menjadikan wilayah 3T sebagai bagian dari identitasnya, maka kebijakan fiskal harus melampaui logika teknokrasi. Dibutuhkan afirmasi anggaran yang tidak semata berdasarkan kontribusi ekonomi, melainkan berbasis keadilan spasial dan kebutuhan sosial.

Partisipasi warga 3T dalam perencanaan anggaran perlu diperkuat, bukan hanya dalam bentuk musyawarah simbolik di tingkat desa, tapi juga dalam pengambilan keputusan nasional. Di sinilah pentingnya rekonstruksi bahasa ekonomi negara agar bisa mendengar suara yang selama ini dibungkam oleh logika pertumbuhan semata.

Penutup: Mengubah Bahasa, Mengubah Kuasa

Ketika anggaran digunakan sebagai bahasa kekuasaan, maka yang tak menguasai bahasanya akan selalu disingkirkan. Untuk itu, bangsa ini perlu memikirkan ulang bagaimana menyusun APBN bukan hanya untuk efisiensi, tetapi untuk keadilan representasi.

Wilayah 3T bukan statistik kosong. Mereka adalah wajah dari keutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan, multietnis, dan beragam geografis. Jika APBN terus menyingkirkan mereka, maka anggaran negara bukanlah cermin bangsa, melainkan cermin dari kekuasaan yang enggan berbagi.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


📊 Views: 17
Baca Juga:  Seorang Ibu Rela Seberangi Lautan Tinggalkan Air Galon Untuk Anaknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *