Pemerintah memang kerap mengklaim telah menyalurkan bantuan sosial, menambah alokasi perlindungan, dan menyusun strategi jangka panjang. Namun di lapangan, yang dirasakan rakyat hanyalah ketidaksesuaian antara janji dan kenyataan.
Banyak yang tak terdata, atau masuk dalam kategori yang “tidak cukup miskin untuk dibantu”, padahal nyatanya juga nyaris tak bisa memenuhi kebutuhan dasar hariannya.
Masalahnya bukan hanya soal nominal bantuan yang terlalu kecil, tetapi juga soal ketepatan distribusi. Di banyak daerah, warga harus antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan beras subsidi, yang kualitasnya bahkan kadang jauh dari layak.
Di sisi lain, mereka tetap harus membeli kebutuhan pokok lainnya dengan harga pasar yang terus merangkak naik.
Lebih miris lagi, di tengah tekanan ini, narasi efisiensi dan pembangunan tetap jadi panggung utama para pengambil kebijakan. Tidak salah memang, karena negara butuh menjaga stabilitas fiskal.










