Dalam jangka panjang, rakyat tentu tidak ingin selamanya bergantung pada subsidi. Namun untuk bisa mandiri, mereka butuh transisi yang adil dan kesempatan yang nyata. Peningkatan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, dan akses modal usaha harus berjalan bersamaan dengan reformasi subsidi.
Ketika subsidi menyusut, dan rakyat terpaksa mengecilkan harapan, maka negara harus hadir. Tidak cukup hadir dalam pidato atau siaran pers, tetapi dalam bentuk kebijakan yang berpihak. Karena di ujung hari, keberadaan negara diuji bukan saat surplus anggaran, tetapi saat warganya paling rapuh.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










