KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA adalah sila kelima yang kerap dijadikan mantra politik oleh para elit.
Namun seiring waktu, sila itu lebih sering menjadi retorika ketimbang kenyataan. Terutama bagi warga desa, keadilan sosial masih terasa jauh, kabur, bahkan sekadar ilusi.
Di kota-kota besar, keadilan sosial diterjemahkan dalam bentuk subsidi transportasi, program digitalisasi, dan bantuan sosial dengan aplikasi canggih. Namun di banyak desa, sinyal internet masih hilang-timbul, jalan rusak belum diperbaiki, sekolah kekurangan guru, dan puskesmas kekurangan tenaga medis.
Di sinilah letak ketimpangan yang sesungguhnya: ketika akses dasar belum tersedia, wacana keadilan hanya terdengar absurd.
Retorika pembangunan yang dibanggakan elit sering kali mengabaikan konteks desa. Infrastruktur dibangun, tapi bukan berdasarkan kebutuhan warga, melainkan berdasarkan proyek anggaran yang diturunkan dari atas.










