KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Dari Transfer ke Ketergantungan: Mengapa Dana Pusat Gagal Mencetak Desa Mandiri

×

Dari Transfer ke Ketergantungan: Mengapa Dana Pusat Gagal Mencetak Desa Mandiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi dana pusat yang dialokasikan ke desa dengan papan proyek besar, tetapi tidak disertai aktivitas ekonomi warga. Gambar ini merepresentasikan kegagalan program dana desa menciptakan desa mandiri dan produktif.
Ilustrasi visual perbandingan antara papan proyek dana pusat di desa dan aktivitas ekonomi desa yang tetap kosong, menandakan kegagalan pemberdayaan.

Lebih parah lagi, transfer dana tidak diiringi dengan penguatan kelembagaan desa. Banyak perangkat desa masih minim kapasitas dalam perencanaan strategis, manajemen usaha, dan pengelolaan data. Hal ini menyebabkan penggunaan dana didasarkan pada rutinitas, bukan berdasarkan pemetaan potensi ekonomi yang berbasis bukti. Ketika kapasitas rendah bertemu dengan dana besar, hasilnya bukan pemberdayaan, tetapi stagnasi.

Sistem transfer fiskal di Indonesia juga memiliki karakteristik top-down fiscal design, yaitu desain kebijakan yang mengedepankan instruksi dari atas ke bawah. Pemerintah pusat menetapkan prioritas, lalu desa mengikuti alokasi tersebut dengan sedikit ruang untuk inovasi. Akibatnya, banyak desa tidak merasa memiliki agenda pembangunan mereka sendiri. Ketika tidak ada otonomi fiskal sejati, maka tidak ada motivasi struktural untuk membangun kemandirian.

Ketergantungan juga diperkuat oleh absennya mekanisme insentif fiskal. Dalam sistem saat ini, desa yang kreatif dan mampu meningkatkan pendapatan asli desa (PADes) tidak mendapatkan perlakuan berbeda dari desa yang hanya bergantung pada transfer pusat. Ini menciptakan equal treatment bias yang melemahkan semangat kompetisi sehat dalam pengelolaan fiskal desa.

📊 Views: 14
Baca Juga:  Realisasikan Program Ketahanan Pangan, Desa Sungai Ulu Fokus pada Jagung dan Ubi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *