KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Keadilan Pendidikan Gagal Terwujud, Dana Melimpah untuk Kota, Seret untuk Desa

×

Keadilan Pendidikan Gagal Terwujud, Dana Melimpah untuk Kota, Seret untuk Desa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi perbandingan sekolah digital modern di kota besar dengan sekolah desa yang kekurangan fasilitas dan rusak.

Pendidikan seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa dan pembuka peluang bagi semua lapisan masyarakat. Namun kenyataannya, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia masih sangat timpang. Sekolah-sekolah di kota menikmati dana melimpah dan fasilitas modern, sementara sekolah di desa dan wilayah tertinggal terus beroperasi dalam keterbatasan. Ketika dana tidak mengikuti prinsip keadilan, maka pendidikan kehilangan fungsi emansipatorisnya.

 

KEADILAN dalam pendidikan bukan sekadar menyediakan akses sekolah bagi seluruh anak bangsa, tetapi juga menjamin kesetaraan kualitas dan fasilitas di setiap wilayah. Dalam realitas anggaran, Indonesia masih jauh dari cita-cita tersebut. Ketimpangan fiskal dalam sektor pendidikan terus berlangsung secara sistemik, memperdalam jurang antara pusat dan pinggiran.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, alokasi dana pendidikan yang besar dalam APBN cenderung terserap di daerah dengan kemampuan birokrasi dan fiskal tinggi, seperti kota-kota besar dan pusat pemerintahan. Wilayah-wilayah tersebut mampu mengakses berbagai program prioritas nasional, mulai dari digitalisasi sekolah, tunjangan kinerja guru, hingga pembangunan laboratorium. Sebaliknya, sekolah-sekolah di desa sering kali tidak masuk radar kebijakan, sehingga hanya menerima dana operasional dasar.

Fenomena ini dikenal dalam literatur kebijakan sebagai fiscal centrality bias, yaitu kecenderungan sistem anggaran yang menguntungkan pusat-pusat kekuasaan administratif. Program pemerintah pusat seperti Kurikulum Merdeka atau Sekolah Penggerak justru lebih mudah diimplementasikan di kota, karena didukung oleh SDM dan infrastruktur yang memadai. Di sisi lain, desa tertinggal hanya menjalankan kebijakan yang tidak relevan dengan kondisi lokal.

📊 Views: 17
Baca Juga:  Saat Rakyat Didorong Berhemat, Elit Terus Berkonsumsi: Di Mana Etika Fiskal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *